Sukses yang Sepi
- Roby Muhamad
- Apr 22
- 2 min read
Updated: Apr 25
Ada seorang teman lama yang saya temui beberapa minggu lalu. Karier bagus, penghasilan berlebih, rumah dan apartemen di lokasi yang semua orang inginkan. Di media sosialnya, hidupnya tampak sempurna dan memang begitu adanya. Tapi di akhir makan malam, setelah segelas kopi, dia berkata pelan: “Gue capek. Bukan capek kerja. Capek yang lain.”
Saya tahu capek yang dia maksud. C.S. Lewis pernah menulis sesuatu yang sederhana tapi tidak mudah dicerna: jika kamu sadar sudah berjalan di jalan yang salah, maka berbalik arah adalah kemajuan. Bukan mundur. Bukan kalah. Tapi justru langkah paling maju yang bisa kamu ambil.
Dunia terus bergerak maju. Tapi maju ke mana, kalau jalannya salah?
Kita hidup di zaman yang pandai mengukur kecepatan. Tapi sangat buruk mengukur arah. Ada metrik untuk hampir segalanya: sebut saja produktivitas, pertumbuhan, net worth, follower count. Tapi tidak ada metrik untuk pertanyaan yang paling mendasar: apakah hidup yang sedang kamu bangun ini memang hidup yang kamu inginkan?
Dalam network science, ada fenomena yang menarik. Simpul yang paling banyak koneksinya (yang paling connected) tidak selalu yang paling kuat. Justru mereka yang paling rentan terhadap gangguan. Karena setiap koneksi membawa beban. Dan jika koneksi-koneksi itu tidak bermakna, bebannya tetap nyata tapi manfaatnya tidak.
Banyak dari kita hidup seperti itu. Networknya luas. Sangat sibuk. Sangat produktif. Dan sangat sepi.
Bukan karena kekurangan aktivitas. Tapi karena aktivitas yang kita jalani tidak benar-benar berasal dari pilihan kita.
Seperti yang saya sering sampaikan dalam berbagai kesempatan: kita sering mengira kita mengambil keputusan sendiri, padahal kemungkinan besar kita tidak. Kita mengikuti algoritma karier, algoritma sosial, algoritma ekspektasi yang semuanya mengatakan: terus maju, terus naik, terus tumbuh. Tidak ada yang mengajarkan kita untuk berhenti dan bertanya: naik menuju apa?
Sukses yang sepi dan terasa hampa adalah tanda. Bukan tanda kegagalan tapi tanda bahwa kita sudah cukup jujur dengan diri sendiri untuk merasakannya.
Masalahnya, kejujuran semacam ini tidak populer. Jauh lebih mudah menambah kesibukan baru daripada duduk dengan ketidaknyamanan pertanyaan lama. Jauh lebih aman memposting pencapaian berikutnya daripada mengakui bahwa pencapaian sebelumnya terasa hampa. Tapi hampa itu data. Dan data tidak boleh diabaikan.
Saya tidak punya solusi untuk ini. Tidak ada peta jalan yang bisa saya berikan. Yang saya tahu: berbalik arah butuh keberanian yang berbeda dari keberanian untuk terus maju. Maju itu dirayakan. Berbalik arah sering disalahpahami oleh orang lain, bahkan oleh diri sendiri.
Tapi mungkin, itulah justru pertanda bahwa langkah itu benar. Sukses yang sepi adalah tanda kita salah jalan. Dan jalan yang salah, meskipun sejauh apapun sudah kita tempuh, tidak menjadi benar hanya karena kita sudah terlanjur jauh. Berbalik adalah pilihan. Dan kadang, itu pilihan paling berani yang bisa kita ambil.
FilosofiRoby-MkII

Comments